Laman

Senin, 16 April 2012

Whole Language


Pada umumnya kata approach diartikan pendekatan. Dalam dunia pengajaran lebih tepat diartikan a way of beginning something. Jadi kalau diterjemahkan ialah “cara memulai sesuatu”. Lebih luas lagi approach adalah asumsi atau prinsip hakikat pengajaran bahasa dan proses belajar bahasa.
Pendekatan terpadu dalam pembelajaran bahasa dilandasi pandangan bahasa holistik (whole language) yang memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang bulat dan utuh. Pada hakikatnya whole language merupakan falsafah pandangan atau keyakinan tentang hakikat belajar dan bagaimana anak belajar secara optimal (Sabarti Akhadiah. 1991:4).
 Weaver (1992) menyatakan bahwa whole language pada dasarnya merupakan falsafah pandangan atau keyakinan tentang hakikat belajar dan bagaimana anak dapat belajar secara optimal. Whole language memang bukan pendekatan perse namun dalam masyarakat orang sering menggunakan ungkapan pendekatan whole language. Ungkapan tersebut dimaksudkan sebagai lingkungan belajar mengajar yang mencakup kegiatan-kegiatan yang dengan jelas mencerminkan pandangan whole language. Sistem landasan keterpaduan dalam pembelajaran bahasa menyatakan bahwa belajar bahasa akan lebih mudah terjadi jika bahasa itu disajikan secara holistik nyata, relevan, bermakna, serta fungsional, jika bahasa itu disajikan dalam konteks pembicaraan dan dipilih siswa untuk digunakan.
Whole language mengandung konsepsi bahwa bahasa merupakan gejala plural yang mempunyai keutuhan. Sebab itu, sebagai bahan pembelajaran, bahasa tidak dapat disikapi sebagai gejala yang tersegmentasikan secara artifisial melainkan disikapi sebagaimana gejala penggunaannya dalam berbagai peristiwa komunikasi. Sebagai wawasan yang ada dalam konteks pengajaran bahasa, penerapan prinsip whole language berimplikasi pada penyikapan bahasa sebagai bahan pembelajaran, bentuk pembelajaran, assessment, dan penilaian. Dalam artian luas, penerapan prinsip tersebut berimplikasi dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian program (Aminuddin. 2007:4).
Sedangakan Imam Syafi'ie (2007:12) berpendapat bahwa pendekatan integratif dalam pengajaran bahasa Indonesia sebagaimana disebutkan dalam Kurikulum Bahasa Indonesia 1994 bersumber dari whole language, yaitu suatu pandangan kebenaran tentang hakikat proses belajar dan bagaimana mendorong proses tersebut agar dapat berlangsung secara efektif dan efisien sehingga dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan dalam proses belajar mengajar di sekolah secara optimal. Dalam pengertian seperti ini whole language dapat dipandang sebagai pendekatan dalam proses belajar mengajar bahasa. Sebagai suatu pendekatan, whole language berdasarkan sejumlah asusmsi dari psikolinguistik, sosiolinguistik, psikologi perkembangan anak, teori belajar bahasa, dan pedagogi. Dari pendekatan whole language beserta asumsi-asumsinya kemudian berkembang konsep-konsep pengajaran bahasa secara terpadu sesuai kurikulum, bahasa lintas kurikulum, penyajian materi pembelajaran bahasa dalam unit-unit tematis.
Goodman (dalam Puji Santoso 2008: 2.3) menyatakan  Whole language adalah pendekatan pembelajaran bahasa yang menyajikan bahasa secara utuh, tidak terpisah-pisah. Para ahli Whole Language berpendapat bahwa bahasa merupakan satu kesatuan (whole) yang tak dapat dipisahkan, oleh sebab itu pembelajaran keterampilan berbahasa disajikan secara utuh bermakna dan dalam situasi nyata (otentik) (Rigg dalam Puji Santoso 2008: 2.3). Pembelajaran tentang penggunaan tanda baca seperti koma dan sebagainya diajarkan sehubungan dengan pembelajaran menulis (Cornett, 1990:78).
Pendekatan terpadu menyarankan agar pengajaran bahasa Indonesia didasarkan pada wawasan Whole Language, yaitu wawasan belajar bahasa yang intinya menyarankan agar kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia dilaksanakan terpadu antara membaca, mendengarkan, menulis, dan berbicara. Dengan konsep itu, dalam jangka panjang, target penguasaan kemahiran wacana itu bisa tercapai (Brown, 1997: 25).
Dipertegas pendapat Redmond Mary Lynn (1994:428) yang menyatakan The Whole Language Approach provides a learning environment in which the student participates in meaningful language experiences. Through the process of constructing language for communication purposes, the student develops the ability to listen, speak, read, and write in a natural manner.
Berdasarkan uraian di atas dapat digambarkan bahwa pendekatan whole language membutuhkan lingkungan pembelajaran yang mana siswa berpartisipasi dalam menyusun bahasa untuk berkomunikasi untuk maksud dan tujuan-tujuan tertentu. Dalam pendekatan ini siswa mengembangkan kemampuan mendengar, berbicara, membaca, dan menulis dengan cara alami.
Froese (1990: 3) “Pemakaian pendekatan whole language menekankan pada kebebasan guru dalam pembelajaran bahasa. Guru akan mudah menggunakan pendekatan whole language dalam pembelajaran bahasa   apabila   bahasa   yang   diajarkan   digunakan   dalam   aktivitas sehari-hari sehingga komponen bahasa menjadi berarti”.   
Eisele (1991: 29-47) menyatakan bahwa prinsip-prinsip pendekatan whole language sebagai berikut:
a.      Anak tumbuh dan belajar lebih siap ketika mereka secara aktif mengajak dirinya sendiri untuk belajar.
b.     Strategi dan kemahiran mereka pada proses kompleks seperti membaca dan menulis namun harus difasilitasi dengan baik oleh guru. Mereka perlu didukung secara psikologi.
c.      Untuk membangun munculnya kemampuan membaca dan menulis, siswa perlu mencoba untuk meniru strategi orang tua atau guru
d.     Pengajaran dengan whole language didasarkan pada pengamatan bawa banyak hal yang dipelajari pada diri siswa, sehingga guru perlu memberikan kesempatan  dan mendorong ke dalam proses belajar.
e.      Pembelajaran dengan whole language merangsang siswa untuk belajar secara mandiri. Tugas guru memberikan bimbingan kepada siswa.
f.      Guru dan siswa bersama-sama belajar dan mengambil resiko serta mengambil keputusan bersama dalam belajar.
g.     Guru mengenalkan interaksi sosial antara siswa, berdiskusi, berbagi ide, bekerja sama untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam belajar.
h.     Guru memberikan materi kepada siswa berupa tes agar mampu membedakan kemampuan mana yang belum optimal serta mendorong siswa untuk menemukan  dan mengkritik kelemahan sendiri.
i.       Penilaian disatukan dengan pembelajaran.
j.       Guru membangun dan mengembangkan jenis tingkah laku serta sikap yang diperlukan dalam kemajuan belajar siswa.
Dari uraian di atas peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa pendekatan whole language merupakan sebuah pendekatan di mana kompetensi-kompetensi berbahasa saling dihubungan disaat pembelajaran berlangsung sehingga di dalam pembelajaran tersebut dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan dalam proses belajar mengajar di sekolah secara optimal.
a.        Komponen Whole Language
Teuku Alamsyah (2007: 14-17) menjelaskan bahwa ada delapan komponen whole language, yaitu: (1) reading aloud, (2) journal writing, (3) sustained silent reading, (4) shared reading, (5) guided writing, (6) guided reading, (7) independent reading, dan (8) independent writing.
1)     Reading Aloud (membaca bersuara)
Reading aloud adalah kegiatan membaca yang dilakukan oleh guru untuk siswanya. Guru dapat menggunakan bacaan yang terdapat dalam buku teks atau buku cerita. Guru membacakan cerita dengan suara nyaring dan intonasi yang baik sehingga setiap siswa dapat mendengarkan dan menikmati ceritanya. Kegiatan ini akan sangat bermakna terutama jika diterapkan dikelas rendah.
Di sisi lain, dengan pembelajaran reading aloud, guru dapat memberikan contoh membaca yang baik pada siswanya. Pada kelas yang pembelajarannya menerapkan whole language, reading aloud dapat dilakukan setiap hari saat memulai pembelajaran. Guru hanya menggunakan beberapa menit saja (10 menit) untuk membacakan cerita. Kegiatan ini juga dapat membantu guru untuk memotivasi siswa memasuki suasana belajar.
2)     Jurnal Writing
Journal writing atau menulis jurnal merupakan sarana yang aman bagi siswa untuk mengungkapkan perasaannya, menceritakan kejadian di sekitanya, mengutarakan hasil belajarnya, dan menggunakan bahasa dalam bentuk tulisan. Pada dasarnya anak-anak dari berbagai macam latar belakang memiliki banyak cerita. Namun, umumnya mereka tidak sadar bahwa mereka mempunyai cerita yang menarik untuk diungkapkan.
Tugas guru adalah mendorong siswa agar mau mengungkapkan cerita yang dimilikinya. Menulis jurnal bukanlah tugas yang harus dinilai, tetapi guru berkewajiban untuk membaca jurnal yang ditulis anak dan memberikan komentar atau respon terhadap cerita tersebut sehingga ada dialog antara guru dan siswa.
Manfaat jurnal writing
1)          Meningkatkan kemampuan menulis. Dengan menulis jurnal, siswa akan terbiasa mengungkapkan pikirannya dalam bentuk tulisan dan ini berarti pula membantu mengembangkan kemampuan siswa dalam menulis,
2)          Meningkatkan kemampuan membaca. Secara spontan siswa akan membaca hasil tulisannya sendiri setiap ia selesai menulis jurnal. Dengan cara ini tanpa disadari siswa juga melatih kemampuan membacanya. Dengan demikian, menulis jurnal dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa.
3)          Menumbuhkan keberanian menghadapi risiko. Karena menulis jurnal bukanlah kegiatan yang harus dinilai, siswa tidak perlu takut terhadap kesalahan dalam menulis. Kegiatan menulis ini sekaligus dapat digunakan sebagai sarana bereksplorasi,
4)          Memberi kesempatan untuk membuat refleksi. Melalui jurnal siswa dapat merefleksi semua yang telah dipelajarinya atau dilakukannya,
5)          Memfalidasi pengalaman dan perasaan pribadi. Siswa dapat menulis apa saja pengalaman yang dialaminya, baik pengalaman di sekolah maupun pengalaman di luar sekolah. Semua pengalaman itu dapat diungkapkanya melalui tulisan dalam jurnal,
6)          Memberikan tempat yang aman dan rahasia untuk menulis. Bagi siswa, terutama siswa kelas tinggi, jurnal adalah sarana untuk mengungkapkan perasaan pribadi. Jurnal ini sering juga disebut diary atau buku harian. Untuk jurnal jenis ini, siswa boleh memilih apakah guru boleh membaca jurnalnya atau tidak,
7)          Meningkatkan kemampuan berpikir. Dengan meminta siswa menulis jurnal, berarti melatih mereka malakukan proses berpikir, mereka berusaha mengingat kembali, memilih kejadian mana yang akan diceritakan, dan menyusun informasi yang dimiliki menjadi cerita yang dapat dipahami pembaca. Dengan membaca jurnal, guru mengetahui kejadian atau materi mana yang berkesan dan dipahami siswa dan mana bagian yang membuatnya bingung,
8)          Meningkatkan kesadaran akan peraturan menulis. Melalui menulis jurnal, siswa belajar tata cara menulis seperti pengunaan huruf besar, tanda baca, dan struktur kalimat (tata bahasa). Siswa juga mulai menulis dengan menggunakan topik, judul, halaman, dan subtopik. Mereka juga menggunakan bentuk tulisan yang berbeda seperti dialog (percakapan), dan cerita bersambung. Semua ini diajarkan tidak secara formal.
9)          Menjadi alat evaluasi. Siswa dapat melihat kembali jurnal yang ditulisnya dan menilai sendiri kemampuan menulisnya. Mereka dapat melihat komentar atau respon guru atas kemajuannya. Guru dapat menggunakan jurnal sebagai sarana untuk menilai kemampuan berbahasa anak di samping juga penguasaan materi dan gaya penulisan,
10)      Menjadi dokumen tertulis. Jurnal writing dapat digunakan siswa sebagai dokumen tertulis mengenai perkembangan hidup atau pribadinya. Setelah dewasa, mereka dapat melihat kembali hal-hal yang pernah mereka anggap penting pada waktu dulu.
Uraian di atas mengimplikasikan besarnya pengaruh dan manfaat menulis jurnal jika diterapkan di dalam kelas. Memang hal ini terlihat berat bagi guru yang mempunyai kelas besar. Dapat dibayangkan betapa repotnya jika guru setiap hari harus memberi komentar atau respon terhadap setiap jurnal yang ditulis oleh siswa. Namun, guru dapat menyiasati sendiri, bagaimana yang terbaik ketika menerapkan kegiatan ini. Bisa saja misalnya, tidak setiap hari guru memberi komentar atau respon pada setiap anak. Guru dapat membagi siswa dalam kelompok dan dapat memberi komentar atau respon perkelompok secara bergantian. Dengan demikian, guru tidak perlu menghabiskan waktu untuk merespon jurnal siswa. Ini adalah satu untuk contoh membagi waktu dalam memberi respon. Guru sendiri dapat mencari alternatif lain yang dirasa terbaik diterapkan pada situasi dan kondisi sekolahnya.
3)     SSR (Sustained Silent Reading)
Sustained Silent Reading (SSR). SSR adalah kegiatan membaca dalam hati yang dilakukan oleh siswa. Dalam kegiatan ini siswa diberi kesempatan untuk memilih sendiri buku atau materi yang akan dibacanya. Biarkan siswa memilih bacaan yang sesuai dengan kemampuannya sehingga mereka dapat menyelesaikan membaca bacaan tersebut. Oleh karena itu, guru sedapat mungkin menyediakan bahan bacaan yang menarik dari berbagai buku atau sumber sehingga memungkinkan siswa memilih materi bacaan.
Guru dapat memberikan contoh sikap membaca dalam hati yang baik sehingga mereka dapat meningkatkan kemampuan membaca dalam hati untuk waktu yang cukup lama. Pesan yang ingin disampaikan kepada siswa melalui kegiatan ini adalah sebagai berikut:
a)     membaca adalah kegiatan penting yang menyenangkan;
b)     membaca dapat dilakukan oleh siapapun;
c)     membaca berarti berkomunikasi dengan pengarang buku tersebut;
d)    siswa dapat membaca dan berkonsentrasi pada bacaannya dalam waktu yang cukup lama;
e)     guru percaya bahwa siswa memahami apa yang mereka baca;
f)      siswa dapat berbagi pengetahuan yang menarik dari materi yang dibacanya setelah kegiatan SSR berakhir.

4)     Shared Reading
Shared reading ini adalah kegiatan membaca bersama antara guru dan siswa, di mana setiap orang mempunyai buku yang sedang dibacanya. Kegiatan ini dapat dilakukan baik di kelas rendah maupun di kelas tinggi. Ada beberapa cara melakukan hal ini. Cara-cara yang dimaksud adalah sebagai berikut.
a)        Guru membaca dan siswa mengikutinya (untuk kelas rendah);
b)        Guru membaca dan siswa menyimak sambil melihat bacaan yang tertera pada buku;
c)        Siswa membaca bergiliran.
Maksud kegiatan ini adalah
1.    Sambil melihat tulisan, siswa berkesempatan untuk memperhatikan guru membacasebagai model;
2.    Memberikan kesempatan untuk memperlihatkan ketrampilan membacanya;
3.    Siswa yang masih kurang terampil dalam membaca mendapat contoh membaca yang benar.
Ketika membahas suatu topik, guru meminta siswa membuka buku paket yang membahas topik tersebut, kemudian siswa diminta membaca keras secara bergantian.  Dalam hal ini guru telah melakukan shared reading. Sebaiknya guru meneruskan kegiatan ini dengan melibatkan keterampilan lain seperti berbicara dan menulis agar kegiatannya menjadi kegiatan yang utuh dan riil.
5)     Guided Reading
Guided reading tidak seperti pada shared reading, guru lebih berperan sebagai model dalam membaca. Dalam guided reading atau disebut juga membaca terbimbing guru menjadi pengamat dan fasilitator. Dalam membaca terbimbing penekanannya bukan dalam cara membaca itu sendiri, melainkan lebih pada membaca pemahaman. Dalam guided reading semua siswa membaca dan mendiskusikan buku yang sama. Guru melemparkan pertanyaan yang meminta siswa menjawab dengan kritis, bukan sekadar pertanyaan pemahaman. Kegiatan ini merupakan kegiatan membaca yang penting dilakukan dikelas.
6)     Guided Writing
Guided writing atau menulis terbimbing. Seperti dalam membaca terbimbing, dalam menulis terbimbing peran guru adalah sebagai fasilitator, yaitu membantu siswa menemukan hal yang ingin ditulisnya dengan jelas, sistematis, dan menarik. Guru bertindak sebagai pendorong bukan pengatur, sebagai pemberi saran bukan pemberi petunjuk. Dalam kegiatan ini proses writing dalam memilih topik, membuat draf, memperbaiki, dan mengedit dilakukan sendiri oleh siswa.
7)     Independent Reading
Independent reading atau membaca bebas adalah kegiatan membaca yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan sendiri materi yang ingin dibacanya. Membaca bebas merupakan bagian integral dari whole language. Dalam independent reading siswa bertanggung jawab terhadap bacaan yang dipilihnya sehingga peran guru pun berubah dari seorang pemrakarsa, model, dan pemberi tuntunan menjadi seorang pengamat, fasilitator, dan pemberi respon.
Menurut penelitian yang dilakukan Anderson dkk. (1988), membaca bebas yang diberikan secara rutin walaupun hanya 10 menit sehari dapat meningkatkan kemampuan membaca para siswa. Jika menerapkan independent reading, Guru sebaiknya menyiapkan bacaan yang diperlukan untuk siswanya. Bacaan tersebut dapat berupa fiksi atau nonfiksi. Pada awal percakapan independent reading, guru dapat membantu siswa memilih buku yang akan dibacanya dengan memperkenalkan buku-buku tersebut, misalnya guru membacakan sinopsis atau ringkasan buku yang terdapat pada halaman sampul. Jika guru pernah membaca buku tersebut, guru dapat menceritakannya sedikit tentang isi buku. Dengan mengetahui sekelumit tentang cerita, siswa akan termotovasi untuk memilih buku dan membacanya sendiri. Demikian juga ketika guru mempunyai buku baru, sebaiknya buku tersebut diperkenalkan agar siswa dapat mempertimbangkan untuk membaca atau tidak. Dalam memperkenalkan buku, guru sebaiknya juga membahas masalah pengarang dan ilustrator yang biasanya tertulis di halaman akhir. Jika tidak ada keterangan tertulis tentang pengarang atau illustrator, guru paling tidak menyebutkan nama-nama mereka atau menambahkan sedikit informasi yang diketahuinya. Hal ini penting dilakukan agar siswa sadar bahwa sesungguhnya buku itu ditulis oleh manusia bukan mesin.
Buku yang dibaca siswa untuk independent reading tidak selalu harus didapat dari perpustakaan sekolah, kelas, atau dipersiapkan oleh guru. Siswa boleh saja memperoleh buku dari berbagai sumber seperti perpustakaan kota/kabupaten, buku-buku yang ada di rumah, di toko buku, meminjam kepada teman, atau dari sumber lain. Inti dari independent reading adalah membantu siswa meningkatkan pemahamannya, mengembangkan kosakata, melancarkan membaca, dan secara keseluruhan memfasilitasi membaca.
8)     Independent writing
 Independent writing atau menulis bebas bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis, meningkatkan kebiasaan menulis, dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam menulis. Dalam menulis bebas siswa mempunyai kesempatan untuk menulis tanpa ada interfensi dari guru. Siswa bertanggung jawab sepenuhnya dalam proses menulis. Jenis menulis yang termasuk dalam independent writing antara lain menulis jurnal, dan menulis respon. Jika akan menerapkan pendekatan ini, Anda mulailah perlahan-lahan. Jangan mencoba menerapkan semua komponen sekaligus karena akan membingungkan siswa. Cobalah dengan satu komponen dulu dan perhatikan hasilnya. Jika siswa telah terbiasa menggunakan komponen tersebut, baru kemudian dicoba diterapkan komponen yang lain.  
Dari uraian di atas dapat disimpulan bahwa komponen whole language ada delapan, dari kedelapan komponen tersebut di dalam pembelajaran saling berhubungan dan saling mendukung. Kedelapan komponen tersebut yaitu: (1) reading aloud, (2) journal writing, (3) sustained silent reading, (4) shared reading, (5) guided writing, (6) guided reading, (7) independent reading, dan (8) independent writing.
b.        Kelemahan dan Kelebihan Pendekatan Whole Language
1)  Kelemahan Pendekatan Whole Language
a)      Perubahan menjadi kelas whole language memerlukan waktu yang cukup lama karena perubahan harus dilakukan dengan hati-hati dan perlahan agar menghasilkan kelas whole language yang diinginkan (Anderson 2007:21).
b)      Dalam penerapan whole language guru harus memahami dulu komponen-komponen whole language agar pembelajaran dapat dilakukan secara maksimal (Puji Santoso. 2008:2.16).
2)   Kelebihan Pendekatan Whole Language
a)      Pengajaran keterampilan berbahasa dan komponen bahasa seperti tata bahasa dan kosakata disajikan secara utuh bermakna dan dalam situasi nyata atau otentik (Rigg dalam Puji Santoso 2008: 2.3).
b)      Dalam kelas whole language siswa berperan aktif dalam pembelajaran. Guru tidak perlu berdiri lagi di depan kelas menyampaikan materi. Sebagai fasilitator, guru berkeliling kelas mengamati dan mencatat kegiatan siswa. Dalam hal ini guru menilai siswa secara informal (Teuku Alamsyah.2007:23).
c)      Pendekatan whole language secara spesifik mengarah pada pembelajaran bahasa Indonesia. Namun, tidak tertutup kemungkinan untuk diterapkan dalam pembelajaran pelajaran-pelajaran yang lain, semisal IPS, karena pada dasarnya setiap mata pelajaran memiliki keterkaitan dan saling melengkapi (Teuku Alamsyah 2007:13)

c.         Ciri-Ciri kelas Whole Language
Teuku Alamsyah (2007:21-22) mendeskripsikan ada tujuh ciri yang menandakan kelas whole language. Tujuh ciri-ciri whole language, yaitu sebagai berikut:
a)      Pertama, kelas yang menerapkan whole language penuh dengan barang cetakan. Barang-barang tersebut kabinet dan sudut belajar. Poster hasil kerja siswa menghiasi dinding dan bulletin board. Karya tulis siswa dan chart yang dibuat siswa menggantikan bulletin board yang dibuat oleh guru. Salah satu sudut kelas diubah menjadi perpustakan yang dilengkapi berbagai jenis buku (tidak hanya buku teks), majalah, koran, kamus, buku pentunjuk dan berbagai barang cetak lainnya. Semua ini disusun dengan rapi berdasarkan pengarang atau jenisnya sehingga memudahkan siswa memilih. Walaupun hanya satu sudut yang dijadikan perpustakaan, tetapi buku tersedia di seluruh ruang kelas.
b)      Kedua, di kelas whole language siswa belajar melalui model atau contoh. Guru dan siswa bersama-sama melakukan kegiatan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Over head projector (OHP) dan transparasi digunakan untuk untuk memperagakan proses menulis. Siswa mendengarkan cerita melalui tape recorder untuk mendapatkan contoh membaca yang benar.
c)      Ketiga, di kelas whole language siswa bekerja dan belajar sesuai dengan tingkat perkembangannya. Agar siswa dapat belajar sesuai dengan tingkat perkembangannya, di kelas harus tersedia buku dan materi yang menunjang. Buku disusun berdasarkan tingkat kemampuan membaca siswa sehingga siswa dapat memilih buku yang sesuai untuknya. Di kelas juga tersedia meja besar yang dapat digunakan siswa untuk menulis, melakukan editing dengan temannya, atau membuat cover untuk buku yang ditulisnya. Langkah-langkah proses menulis tertempel di dinding sehingga siswa dapat melihatnya setiap saat.
d)     Keempat, di kelas whole language siswa berbagi tanggung jawab dalam pembelajaran. Peran guru di kelas whole language hanya sebagai fasilitator dan siswa mengambil alih beberapa tanggung jawab yang biasanya dilakukan oleh guru. Siswa membuat kumpulan kata (word bank), melakukan brainstorming, dan mengumpulkan fakta. Pekerjaan siswa ditulis pada chart, dan terpampang di seluruh ruangan. Siswa menjaga kebersihan dan kerapian kelas. Buku perpustakaan dipinjam dan dikembalikan oleh siswa tanpa bantuan guru. Buku bacaan atau majalah dibawa oleh siswa dari rumah. Pada salah satu bulletin board terpampang pembagian tugas untuk setiap siswa. Siswa bekerja dan bergerak bebas di kelas.
e)      Kelima, di kelas whole language siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran bermakna. Siswa secara aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran yang membantu mengembangkan rasa tanggung jawab dan tidak tergantung. Siswa terlibat dalam kegiatan kelompok kecil atau kegiatan individual. Ada kelompok yang membuat pelajaran sejarah. Siswa lain secara individual menulis respon terhadap buku yang  dibacanya, membuat buku, menuliskan kembali cerita rakyat, atau mengedit draft final. Guru terlibat dalam konferensi dengan siswa atau berkeliling ruangan mengamati siswa, berinteraksi dengan siswa atau membuat catatan tentang kegiatan siswa.
f)       Keenam, di kelas whole language siswa berani mengambil risiko dan bebas bereksperimen. Guru di kelas whole language menyediakan kegiatan belajar dalam berbagai kemampuan sehingga semua siswa dapat berhasil. Hasil tulisan siswa dipajang tanpa ada tanda koreksi. Contoh hasil kerja setiap siswa terpampang di seputar ruang kelas. Siswa dipacu untuk melakukan yang terbaik. Namun, guru tidak mengharapkan kesempurnaan. Yang penting adalah respon atau jawaban yang diberikan siswa dapat diterima. Ketujuh, di kelas whole language mendapat balikan (feed back) positif baik dari guru maupun temannya. Ciri kelas whole language adalah pemberian feed back dengan segera. Meja ditata berkelompok agar memungkinkan siswa berdiskusi, berkolaborasi, dan melakukan konferensi. Konferensi antara guru dan siswa memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan penilaian diri dan melihat perkembangan diri. Siswa yang mempresentasikan hasil tulisannya mendapatkan respon positif dari temannya. Hal ini dapat membangkitkan rasa percaya diri.
g)      Ketujuh siswa berperan aktif dalam pembelajaran. Guru tidak perlu berdiri lagi di depan kelas menyampaikan materi. Sebagai fasilitator, guru berkeliling kelas mengamati dan mencatat kegiatan siswa. Dalam hal ini guru menilai siswa secara informal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar